Tentara Myanmar diduga meninggalkan pengungsi Rohingya dengan luka tembak dan luka bakar

Bukti foto mengejutkan yang menunjukkan anak-anak di antara yang terluka menambah bobot klaim bahwa militer melakukan kekejaman terhadap orang Rohingya.

Foto-foto tersebut menunjukkan bahwa para pengungsi Rohingya, beberapa di antaranya anak-anak, menderita luka terkena peluru dan luka baka.

Bukti baru tersebut, yang didokumentasikan oleh badan-badan kemanusiaan dan organisasi hak asasi manusia, menambahkan kepercayaan pada klaim bahwa militer Myanmar melakukan kekejaman terhadap komunitas etnis Rohingya selama terjadinya pemberontakan yang berakhir tahun ini.

Materi tersebut muncul setelah Aung San Suu Kyi, pemimpin sipil de facto Myanmar, mengatakan kepada wartawan saat berkunjung ke UE pekan lalu. Dia tidak mendukung sebuah misi pencarian fakta mengenai dugaan pelanggaran terhadap Rohingya. Dewan HAM PBB mengamanatkan sebuah penyelidikan dalam sebuah resolusi pada bulan Maret.

Pejabat pemerintah dan militer berulang kali membantah tuduhan penyalahgunaan yang meluas.

Kekerasan meletus di negara bagian Rakhine yang bergolak di Myanmar pada bulan Oktober tahun lalu setelah mengkoordinasikan serangan bersenjata terhadap tiga pos penjaga perbatasan oleh gerakan militan Rohingya yang sebelumnya tidak diketahui. Sembilan personel keamanan tewas dalam kerusuhan tersebut.

Militer Myanmar dan bagian-bagian kepolisian kemudian melakukan "operasi pembersihan" terhadap pemberontak di daerah utara Maungdaw, sebuah kota yang dekat dengan perbatasan dengan Bangladesh.

Amnesty International dan Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR), badan pengawas hak asasi manusia PBB, menyatakan bahwa penyisiran militer ini melibatkan pelecehan yang meluas dan sistematis terhadap komunitas Rohingya, termasuk pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan. Mendorong lebih dari 75.000 orang Rohingya melarikan diri melintasi perbatasan ke wilayah Cox's Bazar di Bangladesh dan mengungsikan puluhan ribu orang di Myanmar.

Zeid Ra'ad Al Hussein, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, dan Yanghee Lee, pelapor khusus PBB untuk Myanmar, keduanya mengklaim bahwa pasukan keamanan Myanmar mungkin bertanggung jawab atas "kejahatan terhadap kemanusiaan". Pejabat dari badan-badan PBB percaya lebih dari seribu Rohingya bisa saja terbunuh dalam tindakan keras tersebut.

Foto-foto korban luka Rohingya yang terlihat oleh Guardian tampak menguatkan klaim bahwa pelanggaran serius terjadi. Gambar tersebut mendukung tuduhan yang dibuat dalam laporan PBB yang mencakup wawancara dengan ratusan pengungsi Rohingya yang baru saja meninggalkan Myanmar ke Bangladesh.

Penulis laporan tersebut mengatakan bahwa "tentara sengaja membakar rumah dengan keluarga di dalamnya" dan "dalam kasus lain mendorong Rohingya ke rumah-rumah yang sudah terbakar".

Foto-foto tersebut diperoleh oleh Organisasi Rohingya Burma dari Inggris, sebuah kelompok advokasi yang berbasis di London, untuk sebuah laporan yang akan datang.

Satu gambar menunjukkan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Anak laki-laki dan ibunya mengklaim bahwa militer bertanggung jawab atas luka-luka bakarnya.

"Ketika militer membakar rumah saya, saya tidak bisa mencegah anak saya dibakar,” kata ibu anak laki-laki itu, dikutip dari the guardian.

Gambar lain tampak menunjukkan luka peluru di kaki anak laki-laki berusia tujuh tahun. Dia mengklaim bahwa ia terluka saat militer Myanmar melakukan penggerebekan di desanya: "Saya melihat militer, dan tertembak saat saya melarikan diri,” kata anak itu.

Anak-anak lain dengan luka serius termasuk seorang gadis berusia lima tahun dengan luka bakar  pada kulit di sekitar jari-jarinya. "Seseorang menarik anak saya dari api. Dia pingsan selama tiga hari setelahnya," kata ibu si gadis.

Empat organisasi lainnya mengklaim telah melihat jaringan serupa di tubuh pengungsi Rohingya yang tiba di Bangladesh selama kekerasan tersebut.

Seorang juru bicara untuk Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi di Bangladesh mengatakan ada orang-orang dengan luka yang dilaporkan seperti luka tembak dan luka bakar di antara mereka yang mencari bantuan dari pengungsi terdaftar di dalam kamp. Mereka umumnya orang dewasa dan remaja. Mereka dirujuk secepat mungkin untuk mendapat perhatian medis melalui LSM dan rumah sakit setempat.

Foto-foto tersebut telah mendorong seruan baru agar Myanmar bekerja sama dengan misi pencarian fakta PBB.(kakikukram.com)

Images:
The guardian

0 komentar:

Post a Comment