Bepergian? Hendaknya Tetap Safety!

Aron Ralston menemukan dirinya terjebak sendirian di canyon dan harus melakukan operasi untuk menyelamatkan hidupnya. Selama enam hari, ia harus menghadapi pertarungan hidup dengan sengit.  Pengendalian diri dan keyakinan bahwa hanya pikiran logis yang bisa membiarkannya tetap bertahan.

Pendaki serta petualang yang saat itu berusia 27 tahun tersebut akhirnya bisa menyelamatykan sendiri kehidupannya dari ledakan kemaharan yang buta. Ralston melakukan hiking di Utah Canyonlands National Park.

Dalam perjalanannya, is sempat bertemu dengan dua orang pejalan kaki, Kristi dan Megan. Sempat bercakap, berkenalan, kemudian Ralston menuju ke Blue John Canyon sendirian. Saat melakukan poendakian dengan medan yang penuh dengan celah, ia tergelincir dan terjatuh ke bawah. Batu yang ikut jatuh, menjebaknya di antara celah tebing. Terjebak, ia mencoba meminta bantuan tapi menyadari bahwa ia sendirian.

Di ranselnya, juga hanya berisi satu liter air, beberapa potong cokelat, video kamera dan tidak ada ponsel. Hal bodoh lainnya, ia juga tidak memberitahu siapa pun di mana dia akan pergi. Sampai akhirnya, selama beberapa hari terjebak ia terpaksa memotong lengannya menggunakan pisau multi tool kit kecil yang tumpul.

Ralston berpikir sudah tidak ada lagi kesempatan untuk menyelamatkan hidupnya. Lengannya diberikan ikatan untuk mengurangi darah yang keluar. Saat pisau sampai menyentuh tualngnya, ia kemudian memakai ‘gertakan’ untuk mematahkannya. Menggunakan emosi yang tinggi daripada logika tenang.  

Ralston adalah seorang pemuda yang hiperaktif, penyendiri, percaya diri. Ia percaya bahwa dia adalah tak terkalahkan. Tanpa malu-malu ia juga memamerkan foto ke pejalan kaki perempuan (Kristi dan Mega) yang ia temui.

Namun, saat peristiwa terjebaknya di antara celah tebing dengan batu yang mengganjalnya tersebut, ia hampir tak bisa berbuat apa-apa. Ralston telah bgagal memberitahu siapa pun mengenai dia pergi ke mana. Dirinya pun tahu kalau tidak ada seorang pun yang bisa menemukannya.

Ini membuatnya berpikir secara rasional untuk keluar dari jebakan tersebut. Ia mulai berhalusinasi. Namun tetap mengesampingkan pilihan paling dramatis, yaitu bunuh diri. “Ada percakapan yang nyata dengan diri saya sendiri. Anda harus memotong lengan Anda,” kata Aron, dikutip dari theguardian.com.

Setelah berpikir panjang, ia akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri dan melakukannya. Dalam kondisi kelaparan, kekurangan air, dan suhu 3 derajat Celcius. Amputasi yang dilakukannya pun berhasil dan bisa melemparkan tubuhnya keluar dari celah tebing tersebut. “Pelajarannya adalah bahwa ketahanan adalah tentang fleksibilitas. Ini bukan hanya tentang latihan kekuatan Anda,” tuturnya.

Kini, Ralston meneruskan hidupnya dengan lengan palsu. Serta sudah beristrikan Jessica dan dikarunia anak. Ralston mengaku pernah ada saat-saat frustrasinya dengan lengan palsu. Namun, mengingatnya itu merupakan uapaya penyelamatan, ia merasa mendapatkan hidupnya kembali. Ia tidak depresi dan tidak khawatir identitasnya sebagai individu yang mandiri hilang.

Banyak orang yang telah menemuykan inspirasi dari kisah Ralston yang dikemas melalui film ‘127 hours’ ini. Bahwa pengalaman nyata mengubah sebuah hidup, tidak akan benar-benar mengubah hidupnya. Ralston setelah kejadian tersebut dan berkeluarga tetap melakukan kegiatran-kegiatan alam memakai lengan palsunya. Ralston juga masih suka menyendiri.

Selain itu, pelajarn yang didapatkan dari kisahnya ini juga setiap kali hendak bepergian untuk tetap safety. Dari mulai perlengkapan alat-alat yang dibutuhkan menyesuaikan medannya. Perbekalan yang cukup, serta mengantongi izin dari orang-orang terdekat.(kakikukram.com)

Images:
Theguardian.com
Powered by Blogger.