Mbah Sayem, Temuan Tak Ternilai

Cuaca tak mau mengerti terhadap mereka yang sedang bekerja untuk persiapannya membangun museum. Padahal, jam istirahat untuk makan siang masih cukup lama.

Mereka pun juga tak mau menghiraukan, meski baju sudah basah akan air hujan bercampur peluh. Masing-masing masih terlihat dengan tugas pekerjaannya. Salah satunya adalah Suroto, pria berumur sekitar 40 tahun yang rumahnya tak terlalu jauh dari lokasi ini. Di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.


Lahir dari keluarga sederhana, Suroto tak tahu kalau tanah yang dibeli oleh ayahnya dulu menyimpan suatu benda yang tak bisa dinilai dengan materi. Ia pun sedikit menyesalkan ketika masa kecilnya dulu, tak bisa menempa ilmu di sekolah. Karena ketidakmampuan orangtuanya dulu untuk membiayainya.

Namun, itu sudah dianggapnya menjadi angin lalu. Saat ini, yang penting baginya adalah bisa menyekolahkan dua anaknya sampai ke tingkat yang tinggi. Setidaknya bisa mengangkat derajat masyarakat desanya melalui wisata, yang sekarang masih bisa dihitung dengan jari mereka yang fasih berbahasa Inggris.

Sekitar tahun 2000an lalu, ia memang sudah dijadikan sebagai juru pelihara (jupel) di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Setidaknya ada suatu harapan untuknya, agar bisa menggapai keingginannya itu.


Senyum ramahnya pun menyambut ketika seorang wisatawan datang ke tempat ini. Sengaja memberhentikan pekerjaannya sejenak, untuk beralih sebagai jupel. Menerima tamu, serta menceritakan segala hal yang diketahuinya tentang tempat ini.

“Memang masih sepi, tapi setidaknya sehari ada satu-dua wisatawan yang datang. Terutama mahasiswa atau peneliti,” ujarnya.

Diceritakannya, sudah sering ia mendampingi para peneliti dari berbagai negara. Dari situlah ia menyerap ilmunya, bagaimana karakter tiap peneliti maupun pengetahuan tentang dunia purbakala. “Kalau peneliti dari Prancis, pekerjaannya sangat rapi. Sehari saja, penggalian mungkin hanya tiga centimeter saja. Kalau orang tidak sabaran, pasti tidak mau mendampingi,” tuturnya.

Penggalian pertama yang dilakukan di tempat ini adalah pada awal 1950an silam, oleh Pof. Dr. R. P. Soejono dan Prof. D. H. R. van Heekeren. Kemudian dilanjutkan pada 1994, oleh Puslitbang Arkenas bekerjasama dengan Museum national d’histoire naturelle, Prancis.


Song Terus, kemudian menjadi tempat yang menunjang untuk pelatihan para peneliti muda dari berbagai negara Asia dan Eropa untuk belajar metode modern penggalian dan perlindungan warisan, terutama dalam rangka sekolah lapangan yang bersifat internasional.

Salah satu temuan yang sangat berharga di Goa Song Terus ini merupakan kerangka manusia purba yang berumur sekitar sepuluh ribu tahun lalu. Ditemukan dalam kondisi berbaring, diketahui berjenis kelamin laki-laki yang sedang memegang sebuah alat batu. “Namanya Mbah Sayem, yang memberikan nama itu para peneliti,” katanya.


Goa Song Terus telah merekam lebih dari 300.000 tahun dalam sejarah manusia purba di daerah Punung. Periode panjang ini menjadi saksi pergantian Homo Erectus dari batu yang ditemukan di lapisan paling bawah, oleh manusia modern (Homo Sapiens) seperti kubur yang ditemukan di dalam goa. Lapisan yang ada di situs ini, merupakan yang tertua di Asia Tenggara (120 ribu tahun lalu).  “Sekitar tahun 2000an lalu, kerangka Mbah Sayem diangkat, dan diamankan di kantor cagar budaya. Sekarang ini, replikanya,” ucapnya.

Suroto, sangat terbuka bagi mereka yang ingin berkunjung dan belajar di tempat ini. Asalkan mematuhi aturan yang ada, baik tertulis maupun tidak. “Tidak boleh membawa pulang satu batu pun dari tempat ini. Meski batu itu berada di pelataran,” katanya.






0 komentar:

Post a Comment