Kisah Pelatih Buta dari Brasil

Dunianya serasa jatuh, tapi sepakbola membuatnya kembali ke kehidupan. Flavio Aurelio Silva merupakan satu-satunya pelatih sepakbola tunanetra yang ada di dunia sepakbola Brasil.

Ia mengalami kebutaan di usia sekitar 20 tahun lalu, ketika masih menjadi seorang pemain di tim lokal Juventude Esporte Clube. Dalam permainan membela timnya ketika 1989 silam, Silva mengalami cedera di bagian mata kanannya. Setahun kemudian, kebutaannya mempengaruhi mata lainnya.

Namun, cedera tersebut tak membuatnya mengundurkan diri dari tim. Sebaliknya, ia kemudian bekerja di dalam manajemen tim. Silva membantu menyiapkan seragam dan menjadikan motivasi bagi para pemain karena gairahnya.

Pada 2005, pelatih kepala tim kemudian pensiun. ‘Cegium’ julukan laki-laki kecil yang buta itu, dirasa menjadi orang yang tepat untuk memimpin. Ia telah resmi menjadi seorang pelatih di tim yang berkota di Bom Jardim, salah satu lingkungan palking keras di Fortaleza. Tim yang memegang lima gelar dalam 30 tahun di liga lokal. “Saya bangga bahwa saya adalah pendiri, pemain, dan sampai saat ini bahkan buta. Saya pelatih besar di hati tim saya,” kata pelatih yang berumur 46 tahun itu, dikutip di pogmogoal.com.

 Dalam kepelatihannya, ia berfokus pada pendengarannya. Berdiri di sisi defensive timnya di lapangan, ia mendengarkan pergerakan bola dan pemain dalam membuat keputusan. “Saya tidka mempunyai asisten, tapi semua orang membantu saya,” kata pelatih yang tak malu mendengarkan saran dari para pemain dan fans itu.

Ketekunannya ini, kemudian mendorong para pemainnya. Lebih dari sekedar pelatih, namun juga menginspirasi. “Setiap pemain bekerja keras untuknya. Kami datang ke pertandingan karena dia,” kata gelandang, Andre Barbosa.

Penyerang tengah pendatang barunya pun mendapatkan rasa emosionalnya ketika berbicara mengenai pelatih. “Kami melihatnya lebih baik dari pelatih lain,” kata Deone Lopes.

Ketika para pemain malas untuk berlatih, datang ke lapangan, mereka hanya perlu mengingat perjalanan Ceguim. Pria buta itu tinggal dengan jarak 20 kilometer jauhnya. Untuk sampai ke markas klub, harus menaiki tiga bus bergantian, selama satu jam 30 menit. “Saya seorang penggemar Flavio,” kata salah satu fans, Fransisco Moreira.

Flavio adalah idola terutama untuk istrinya. Setiap hari ia mengajarkan bahwa tidak ada penghalang bagi kehidupan. “Saya melakukan segalanya untuk Juventude. Saya hanya akan meninggalkan dari sini ketika saya mati,” kata Flavio.(gajah balbalan)

Foto: Fernanda Moura

Powered by Blogger.