Sedikit tetesan

Hiu. saat masih kecil dulu, nama hewan ini sangat menyeramkan, apalagi bila melihat gambarnya yang ditempelken di dinding sekolah Taman Kanak-Kanakku dulu. Mulutnya yang besar mungkin bisa melahap badanku sekali telan tanpa dikunyah. 

Namun, bayanganku salah. Hiu ini merupakan hewan yang makan-makanan berupa ikan-ikan kecil atau hewan kecil berjenis plankton (hewan kecil yang hidup di laut, seperti halnya spongebob, patrix. Dan plankton ini merupakan musuh besarnya tuan craft). 

Meski tidak seperti hewan lumba-lumba yang dikenal akrab dengan manusia dan bahan bisa menjadi penolong saat ada manusia yang tenggelam di sekitarnya, namun hewan ini meski masih liar tidak lah berbahaya. tak pernah mengganggu nelayan yang sedang melaut mencari ikan atau bahkan menelan anak kecil yang sedang bermain di pinggir pantai. 

 
Sayang, hewan ini diburu oleh masyarakat yang memang ingin mengambil tubuhnya untuk dimanfaatkan. Mungkin karena tidak adanya Undang-undang yang memberlakukan peraturan bahwa hewan ini sudah semakin sedikit, atau mungkin masyarakat yang benar-benar tidak tahu mengenai ancaman kepunahannya.

Satu contoh terakhir. Dua ekor ikan hiu jenis tutul ini belum lama ini pada awal Agustus 2012, terdampar di pantai selatan Daerah istimewa Yogyakarta (DIY). Hiu pertama terdampar di Pantai Baru, kabuaten Bantul. Selang tiga hari, hiu kedua terdampar di Pantai Pelangi, berjarak sekitar 10 kilometer dari tempat terdamparnya hiu yang pertama.

Hiu pertama menjadi 'sengketa' antara dinas terkait, pecinta hewan dengan warga masyarakat sekitarnya. Warga menginginkan,hiu itu untuk dimanfaatkan. Diawetkan untuk dijadikan icon tempat wisata tersebut. yang jelas intinya untuk menarik wisatawan agar berkunjung ke daerahnya yang otomatis bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi untuk warga masyarakatnya. Mereka (Dinas terkait, maupun pecinta hewan) tidak bisa menahannya karena tidak punya dasar untuk melakukan pelarangan.

Namun, berbeda dengan hiu yang satunya lagi (dalam foto). Hiu ini memang lebih kecil dibandingkan dengan hiu yang pertama terdampar. Lebih kecil, panjangnya pun tidak lebih panjang dari hiu sebelumnya.selisih sekitar lima meter (perkiraanku saja). Hiu ini diniati untuk dikubur disekitar tempat terdamparnya. Hanya, niat tersebut urung dilakukan, karena tiga-empat jam akan dikubur ternyata hiu itu hanyut kembali tersapu ombak besar. dan sampai sekarang tubuh hiu yang sudah tak bernyawa itu belum terdampar lagi. Ada mitos karena diguyur oleh Nyi Roro Kidul.Mungkin mitos itu hanya dimunculkan oleh wartawan yang meliput disana, editor yang meng-edit berita dari kiriman wartawannya, atau mungkin memang masyarakat yang ada disana masih merasa seperti itu (mitos).
  
Saat berada disana ku lihat, seorang anak perempuan kecil bersama bapaknya dan kelihatan dismapingnya seorang ibu-ibu tua (mungkin itu nenek dari anak perempuan itu). Gemuk, badan gempal berisi, sangat ketakutan melihat hewan besar itu berada di pinggir pantai. Bapaknya, menyiapkan hape yang ada aplikasi kamera sambil mendorong-dorong anaknya untuk lebih dekat dengan ikan hiu tersebut. Namun, mungkin pikirannya sama seperti saat aku masih kecil dulu. ikan besar itu bisa menggigitnya. Setidaknya bila memang tidak terjadi bisa berbuah mimpi dikala tidur.
 
Ibu-ibu tua itu seperti ingin merangkul anak perempuan kecil agar diajak untuk lebih jauh dari hewan laut. Aku pastikan, tujuan ibu itu agar anak perempuan kecilnya jauh darin ketakutan.Memang benar, bila anak perempuan itu ketakutan efek psikologisnya akan terganggu. Namun, benar juga yang dilakukan Bapak dari anak perempuan itu, dengan tujuan agar anaknya tumbuh menjadi seorang prempuan yang kecil dengan rasa takut dan berani mencoba sesuatu hal yang baru. Mungkin memang.







0 komentar:

Post a Comment